HEDONISM
DALAM
DUNIA PENDIDIKAN
"
Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-tugas Perkuliahan Filsafat Ilmu
dari Dr Marsigit M.A., Th 2012/2013"
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanpa disadari
Hedonisme telah melekat dalam hidup kita. Hal itu berupa seringnya kita
terjebak dalam pola hidup Hedonis. Pola hidup seperti ini mudah kita jumpai
dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimana orientasi hidup selalu diarahkan pada
kenikmatan, kesenangan atau menghindari perasaan-perasaan tidak enak.
Merupakan suatu hal
yang wajar apabila manusia hidup untuk mencari kesenangan, karena sifat dasar
manusia adalah ingin selalu bermain (
homo ludens) dan bermain adalah hal hakiki yang senantiasa dilakukan untuk
memperoleh kesenangan. Namun, bukan berarti kita bisa dengan bebas mendapatkan
kesenangan, hingga menghalalkan berbagai cara demi memperoleh kesenangan. Sikap
menghalalkan segala cara untuk memperoleh kesenangan telah banyak menghinggapi
pola hidup kaum muda saat ini. Contohnya, kaum muda yang menyukai seks bebas
atas dasar senang-senang saja. Pengaruh budaya liberal menyebabkan hilangnya
norma-norma kesusilaan manusia. Hal ini secara tidak sadar sudah mengakar dalam
jiwa-jiwa pemuja hedonisme. Namun ironisnya, mereka para pemuja kesenangan
dunia semata, tidak menyadari bahwa hal yang dilakukannya adalah perilaku
hedon. Contoh yang kita hadapi saat ini misalnya, segala media informasi
berusaha menawarkan diri kita hal-hal mengenai gaya hidup (life style). Gaya
hidup terus disajikan melalui media televisi. Kaum muda berlomba-lomba dirinya untuk menjadi apa yang diinginkannya.
Berbagai upaya dilakukan agar apa yang diinginkannya dapat tercapai, salah satu
caranya dengan mencari popularitas. Popularitas dapat di peroleh dari berbagai
aspek, baik positif maupun negatif. Tetapi kaum muda lebih banyak mencari
popularitas melalui cara-cara instan yang cenderung ke hal-hal negatif,
sehingga pada akhirnya kaum muda terjebak dalam gaya hidup hedonis.
Kaum muda ingin mencari
popularitas hanya dari tampilan fisik semata. Mereka berlomba-lomba melakukan
segala cara agar penampilan fisik mereka dapat meningkatkan popularitas mereka.
Kaum muda tega menghabiskan tabungan orang tua mereka demi menunjang
popularitas. Contohnya, mereka selalu membeli handphone, pakaian, kendaraan dan
berbagai aksesoris keluaran terbaru agar terlihat selalu mengikuti perkembangan
zaman, demi menunjang popularitas mereka di kalangan sebaya-nya. Hal ini
akhirnya menghilangkan keinginan kaum muda untuk hidup sederhana. Mereka secara
tidak langsung di paksa untuk terus mengikuti perkembangan zaman dan akhirnya
meninggalkan paham kesederhanaan tersebut.
Kaum muda yang pada
awalnya ingin menerapkan keserhanaan dalam hidupnya, menjadi terpengaruh dengan
adanya perilaku-perilaku hedonis tersebut, sehingga akhirnya keinginan mereka
untuk hidup sederhana menjadi tergantikan dengan paham untuk berfoya-foya dan
menghamburkan uang. Inilah suatu realitas hedonisme yang akhirnya merusak
keinginan kaum muda untuk hidup sederhana di masyarakat. Hedonisme, sebuah
konsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan
dalam hidup.
Seiring
dengan perkembangan jaman perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang demikian pesat pun seyogyanya juga tidak terlepas dari nilai-nilai sebagai
pengontrol/pengendali, agar tidak terjerembab ke dalam keangkaramurkaan dan
nafsu serakah yang pada akhirnya akan menghancurkan dunia dan peradaban manusia
itu sendiri. Iptek yang disenyawakan dengan nilai-nilai atau etika ilmiah
niscaya akan membuahkan produk yang bermanfaat tanpa harus bermasalah dengan
tatanan peradaban umat manusia. Pembahasan yang terkait dengan konsep nilai,
sebenarnya merupakan kajian yang sangat erat secara substansial dengan
persoalan etika. Kajian dalam persoalan ini biasanya mempertanyakan
"apakah baik atau buruk", atau "bagaimana mestinya berbuat baik
sehingga tujuan dapat dicapai dan bernilai". Menyikapi hal tersebut, dalam
pembahasan makalah ini, akan dipaparkan tentang apa pengertian dan kajian etika
ditinjau dari sudut pandang ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam aliran
filsafat hedhonisme.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh hedonism terhadap dunia pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hedonisme Menurut Paham Para Filsuf
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia
dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari
perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan
bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani ἡδονισμός hēdonismos dari akar kata ἡδονή hēdonē,
artinya "kesenangan". Paham ini berusaha menjelaskan adalah baik apa
yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri.
Ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan hidup dan kebaikan manusia yang
tertinggi. Dengan kesenangan, para hedonis sejati berpegang pada pengakuan
kenikmatan- kenikmatan yang tidak sempurna di dunia ini.
Hedonisme pertama kali diformulasikan oleh filsuf Yunani Aristippus (c.
435-360 B.C.). Salah paham terhadap ajaran Socrates (470-399 B.C.), yang
mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan akhir kehidupan, Aristippus
menyamakan kebahagiaan dengan kesenangan. Ia berpegang bahwa kesenangan
intelektual adalah lebih tinggi daripada kesenangan indera, tetapi yang
terpenting adalah kesenangan yang dapat diperoleh di sini dan sekarang. Menurut
Aristippus suatu perbuatan adalah baik, dan karena itu merupakan kebajikan,
sepanjang itu memberikan pemuasan pada saat ini, padahal menurut sifat manusia
tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah dicapai selalu akan terus
dan terus menuruti hawa nafsu.
Prinsip Hedonisme disempurnakan oleh Epicurus (c. 341-270 B.C.), yang
menggabungkannya dengan teori fisik dari Demokritus (c. 460-370 BC)…. Bagi
Epicurus, tujuan hidup bukanlah kesenangan intensif tetapi kedamaian pikiran
yang tetap, suatu tingkatan ketenangan yang ceria. Di atas semua itu seseorang
harus menghindari ketakutan terhadap Tuhan dan ketakutan terhadap kematian.
Orang bijak tersebut menetapkan bahwa sebelum kematiannya ia telah mempunyai
sebanyak mungkin jumlah kesenangan dan sesedikit mungkin kesakitan/
penderitaan. Moderasi dianjurkan namun bukan atas dasar pertimbangan moral
namun atas kesanggupan seseorang untuk menikmati kesenangan di masa mendatang
dalam hidupnya. Keinginan/ hasrat harus dibatasi kepada batas- batas yang didalamnya
hal tersebut dapat dipuaskan. Apapun yang meningkatkan kesenangan ataupun
kedamaian pikiran secara umum adalah baik, dan apapun yang menguranginya adalah
buruk. Hedonisme modern adalah filosofi moral yang dipilih oleh mereka yang
mengingkari atau meragukan keberadaan hidup yang akan datang. (Diterjemahkan
dari Fr. John Hardon’s Modern Catholic Dictionary).
Adapun hedonisme
menurut Burhanuddin (1997:81) adalah sesuatu itu dianggap baik, sesuai dengan
kesenangan yang didatangkannya. Disini jelas bahwa sesuatu yang hanya
mendatangkan kesusahan, penderitaan dan tidak menyenangkan, dengan sendirinya
dinilai tidak baik. Orang-orang yang mengatakan ini, dengan sendirinya,
menganggap atau menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidupnya. Jadi ketika
didalam kehidupan kesusahan itu datang maka sebenar benarnya itu bukanlah
tujuan dari kehidupan berdasarkan konsep hedonism.
Menurut Aristoteles
dalam Russell (2004:243) kenikmatan berbeda dengan kebahagiaan, sebab tak
mungkin ada kebahagiaan tanpa kenikmatan. Yang mengatakan tiga pandangan
tentang kenikmatan: (1) bahwa semua kenikmatan tidak baik; (2) bahwa beberapa
kenikmatan baik, namun sebagian besar buruk; (3) bahwa kenikmatan baik, namun
bukan yang terbaik. Aristoteles menolak pendapat yang pertama dengan alasan
bahwa penderitaan sudah pasti buruk, sehingga kenikmatan tentunya baik. Dengan
tepat ia katakan bahwa tak masuk akal jika dikatakan bahwa manusia bisa bahagia
dalam penderitaan: nasib baik yang sifatnya lahiriyah, sampai taraf tertentu,
perlu bagi terwujudnya kebahagiaan. Ia pun menyangkal pandangan bahwa semua
kenikmatan bersifat jasmaniah; segala sesuatu mengandung unsur rohani, dan
kesenangan mengandung sekian kemungkinan untuk mencapai kenikmatan yang
senantiasa kenikmatan yang tinggal dan sederhana. Jadi bisa dikatakan
kenikmatan buruk itu bukanlah kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang
baik, mungkin saja kenikmatan berbeda-beda jenisnya dan kenikmatan baik atau
buruk tergantung pada apakah kenikmatan itu berkaitan dengan aktivitas yang
baik atau buruk.
Menurut Epihurus dalam
Russell (2004: 372) untuk menjaga ketentraman batin, ia menganggap kenikmatan
sebagai yang baik, dan tetap memegang teguh, dengan konsistensi yang luar
biasa, terhadap segala konsekuensi dari pandangan ini. Kenikmatan adalah awal
dan akhir hidup yang penuh berkah. Epihurus tidak sependapat dengan para
hedonis pendahulunya dalam membedakan antara kenikmatan aktif dan pasif, atau
kenikmatan dinamis atau statis. Kenikmatan dinamis terdapat dalam tercapinya
tujuan yang diinginkan, keingginan sebelumnya itu disertai pendidikan.
Kenikmatan statis terdapat dalam keadaan ekuilibrium, yang tercipta dari adanya
semacam keadaan yang diinginkan jika keadaan itu tidak terjadi. Saya kira kita
bisa mengatakan perumusan rasa lapar, ketika upaya untuk memuaskan itu masih
berlangsung merupakan kenikmatan dinamis, namun keadaan senang yang lantas
timbul ketika rasa lapar itu telah sepenuhnya terpuaskan adalah kenikmatan
status. Dalam kedua hal ini Epihurus lebih bijaksana jika mengejar jenis kedua,
sebab lebih murni, dan tidak tergantung pada adanya penderitaan. sebagai
perangsang munculnya keinginan. itu artinya bahwa kenikmatan sosial yang paling
aman adalah persahabatan, karena beranggapan bahwa semua manusia senantiasa
hanya mengejar kenikmatannya sendiri, kadang dengan cara yan bijaksana, kadang
secara tak bijaksana.
Menurut Cicerno dalam
Russell (2004:335) ia berpendapat bahwa persahabatan tak dapat dipisahkan dari
kenikmatan, dan oleh sebab itu harus dikembangkan, kerena tanpa hal tersebut
kita tidak dapat hidup dalam keamanan dan terjauhkan dari kecemasan, tak pula
bisa merasakan kenikmatan.
Honis O. Kallsoff dalam
Soerjono Soemardjo (1996 : 359) manusia dalam kenyataannya mencari kenikmatan
(hedonisme psikologis) dengan prinsip yang mengatakan bahwa mausia seharusnya
mencari kenikmatan (hedonisme etis). Disini jelas bahwa hedonisme ialah
perbuatan yang diantara segenap perbuatan yang dapat dilakukan oleh seseorang
akan membawa orang tersebut merasakan kebahagiaan yang sebesar-besarnya.
Hedonisme dihaluskan
oleh Epicurus dan dihubungkan teori fisika dari Demokritos. Epicurus, tujuan
hidup bukan kesenangan yang kuat, melainkan suatu kedamaian. Kita harus
menghindari rasa takut terhadap dewa dan maut. Kesenangan intelektual saja tidak
cukup, tanpa merasakan kesenangan inderani. Suatu perumusan yang kurang tepat
oleh Epicurus untuk menghindari rasa takut terhadap dewa dan maut, yakni
melalui cara senang-senang atau mengejar materi dalam hidup. Epicurus ini sama
halnya kayak manusia jaman sekarang atau orang-orang yang beragama yang selalu
takut mati dan percaya Tuhan tapi jarang bahkan tidak pernah menjalankan
perintah-Nya.
Hedonism menurut kamus
oxford memiliki makna The highest good and proper aim of human life. Tujuan
hidup manusia yang paling baik dan menyeluruh. John Winter dalam bukunya yang
berjudul Agar Langkah Hidup Anda Bahagia, mengatakan bahwa gaya hidup hedonisme
diciptakan oleh sebuah zaman di mana zaman ini telah mendahulukan keinginan
yang bersumber dari hawa nafsu, bukan dari pikiran rasional yang nyata.
Tetapi tokoh yang
paling berpengaruh dalam perkembangan paham Hedonisme diantaranya :
1. Aristippus
Aristippus dari Kyrene
adalah seorang filsuf Yunani yang
mempelajari ajaran-ajaran Protagoras. Ini dilakukannya selama berada di kota asalnya,
yaitu Kyrene, Afrika Utara.
Aristippus kemudian mencari Sokrates dan menjalin hubungan baik dengannya. Setelah
Sokrates wafat, Aristippos tampil sebagai "Sofis" dan
menjadi guru profesional di Atena. Lalu di Kyrene ia mendirikan sekolah yang dinamakan ''Cyrenaic School'' yang
merupakan salah satu sekolah Sokratik yang tidak
dominan. Sekolah ini mengajarkan perasaan-perasaan sebagai kebenaran yang
paling tepat dalam hidup. Kesenangan adalah baik --termasuk juga kepuasan
badani--. Kehidupan orang bijak selalu mencari jaminan kesenangan maksimal.
Aristippus
menyetujui pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah mencari "yang
baik". Akan tetapi, ia menyamakan "yang baik" ini dengan
kesenangan "hedone". Menurutnya, akal (rasio) menusia harus
memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan kesusahan. Hidup yang baik berkaitan
dengan kerangka rasional tentang kenikmatan.
Kesenangan
menurut Aristoppus bersifat badani (gerak dalam badan). Ia membagi gerakan itu
menjadi tiga kemungkinan yaitu yang pertama gerak kasar yang menyebabkan ketidaksenangan seperti rasa sakit, yang
kedua gerak
halus yang
membuat kesenangan, yang ketiga tiada gerak yaitu sebuah keadaan
netral seperti kondisi saat tidur.
Aristippus
melihat kesenangan sebagai hal aktual, artinya kesenangan terjadi kini dan di
sini. Kesenangan bukan sebuah masa lalu atau masa depan. Menurutnya, masa lalu
hanya ingatan akan kesenangan (hal yang sudah pergi) dan masa depan adalah hal
yang belum jelas.
Meskipun
kesenangan dijunjung tinggi oleh Aristoppus, ada batasan kesenangan itu
sendiri. Batasan itu berupa pengendalian diri. Meskipun demikian, pengendalian
diri ini bukan berarti meninggalkan kesenangan. Misalnya, orang yang
sungguh-sungguh mau mencapai nikmat sebanyak mungkin dari kegiatan makan dan
minum bukan dengan cara makan sebanyak-banyaknya atau rakus, tetapi harus
dikendalikan/dikontrol agar mencapai kenikmatan yang sebenarnya.
2. Epikuro.
Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan.
Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang
buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan. Namun demikian,
bukanlah kenikmatan yang tanpa aturan yang dijunjung Kaum Epikurean, melainkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam.
Kaum Epikurean membedakan keinginan alami yang perlu (seperti makan) dan
keinginan alami yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), serta keinginan
yang sia-sia (seperti kekayaan/harta yang berlebihan). Keinginan pertama harus
dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menyebabkan kesenangan yang paling
besar. Oleh sebab itu kehidupan sederhana disarankan oleh Epikuros. Tujuannya
untuk mencapai ''Ataraxia'', yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari
perasaan risau, dan keadaan seimbang.
Epikuros sangat menegaskan kebijaksanaan (phoronesis). Menurutnya, orang yang bijaksana adalah seorang seniman yang dapat mempertimbangkan pilihan nikmat atau rasa sakit. Orang
bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang
membatasi kebutuhan agar dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan.
Ia menghindari tindakan yang berlebihan. Oleh karena itu, ada sebuah
perhitungan yang dilakukan oleh Kaum Epikurean dalam mempertimbangkan segi-segi
positif dan negatif untuk mencapai kenikmatan jangka panjang dan mendekatkan
diri kepada ataraxia.
Kebahagiaan yang dituju oleh Kaum Epikurean adalah
kebahagiaan pribadi (privatistik). Epikuros menasihatkan orang agar tidak mendekatkan
diri kepada kehidupan umum (individualisme). Ini bukanlah egoisme. Menurut Epikuros, kebahagiaan terbesar bagi manusia adalah persahabatan.
Berkumpul dan berbincang-bincang dengan para kawan dan membina persahabatan
jauh lebih menguntungkan dan membantu mencapai ketenangan jiwa.
B.
Pengaruh Hedonisme Terhadap Pendidikan
Gaya hidup hedonis
adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup,
seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain,
senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya,
serta selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Hedonisme adalah
derivasi (turunan) dari liberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan
adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah
meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial.
Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan berperilaku.
Di era reformasi,
masyarakat berharap munculnya pemimpin dari kaum muda, baik di level
kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat. Beberapa pemimpin muda memang telah
lahir di daerah, tetapi belum untuk level nasional. Regenarasi kepemimpinan
nasional berjalan lambat. Kaum muda yang ditunggu-tunggu belum menunjukkan
tanda-tanda positif menjadi calon pemimpin bangsa.
Kondisi ini tergambar
jelas di kampus-kampus. Masih pantaskah mahasiswa diberi label agen perubahan
atau intelektual muda? Alih-alih menjalankan peran maksimal sebagai agen
perubahan, yang terjadi justru berkembangnya budaya hedonisme di kampus-kampus.
Mahasiswa sekarang cenderung mendewakan kesenangan dan kenikmatan dalam
menjalani hidup. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar terlupakan oleh kilau
kenikmatan sesaat. Sisi kehidupan mahasiswa saat ini telah dihadapkan pada
berbagai godaan yang menarik dan menggiurkan sehingga bisa menyimpang dari
idealisme hakiki manusia. Gaya hidup mahasiswa saat ini adalah gaya hidup kelas
menengah ke atas yang dicirikan dengan kemampuan mengonsumsi produk dan gaya
hidup yang serba modern. Mahasiswa sering kali digambarkan sibuk mengejar
urusan cinta dengan gaya hidup yang menonjolkan tampilan fisik. Fenomena hura-hura
oriented kerap ditemui di kampus. Semakin jarang terdengar percakapan
akademis di lingkungan mahasiswa. Percakapan mereka lebih didominasi masalah
fashion, sinetron dan film terbaru, serta aneka bentuk hedonisme lainnya.
Jika perilaku hedonisme
dibiarkan saja, ini akan menjadi racun bagi dunia pendidikan, terutama
pendidikan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya
menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan sivitas
aka-demika. Budaya negatif ini telah mengikis sense of crisis generasi
muda terhadap berbagai permasalahan bangsa. Jangankan peduli negara, kebijakan
di tingkat kampus dan rektorat pun jarang direspon.
Apatis, itulah
kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sikap para mahasiswa masa kini. Tak
percaya? Perhatikanlah lingkungan kampus: sebuah padepokan yang dihuni
orang-orang muda berpendidikan. Sebagian besar dari mereka, entah mahasiswa
atau mahasiswi, menghabiskan waktu dan uangnya untuk berburu kesenangan di
tempat-tempat hiburan. Lihat pula kematian kelompok-kelompok diskusi. Mahasiswa
lebih suka memberikan apresiasi pada kegiatan hiburan ketimbang aksi seminar
dan penelitian. Jika ada pertunjukan musik di kampus, misalnya di auditorium,
kawasan itu sesak oleh lautan mahasiswa. Tetapi menjadi sepi saat berlangsung
kegiatan akademik seperti seminar dan diskusi publik lainnya. Setiap malam,
kawasan kampus ramai bukan karena kegiatan akademik, namun oleh gerombolan
mahasiswa yang begadang hingga dinihari untuk kegiatan yang tidak jelas.
Belum lagi perilaku
dugemania dan seks bebas yang sekarang kian menjadi-jadi dan dianggap sebagai
”kewajaran” bagi mahasiswa. Fenomena ini menunjukkan rapuhnya mental generasi
muda. Sangat disayangkan mengapa budaya itu begitu mudahnya merasuk ke mental
generasi muda saat ini.
Kenyataan ini sungguh
ironis mengingat mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan di pundak
mahasiswalah harapan semua orang bertumpu. Mahasiswa yang terpengaruh budaya
konsumtif dan sulit melepaskan diri dari pengaruh teman-temannya yang sama-sama
berperilaku konsumerisme perlahan-lahan akan kehilangan daya pikir, logika,
nalar, dan analisisnya. Akibatnya adalah kita terancam kehilangan generasi
penerus yang pandai, idealis, kritis, dan dapat memberi solusi atas permasalahan
yang timbul. Dalam lingkup yang lebih luas negara kita terancam kehilangan
pemimpin yang dapat diandalkan untuk memimpin bangsa yang pada akhirnya dapat
mengakibatkan negara kita akan mudah dikuasai oleh negara lain.
Tujuan pendidikan
Negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945,
alinea 4). Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang hedonisme,
tetapi bangsa yang punya spiritual, punya emosional quotient- peduli pada
sesama dan tidak selfish atau mengutamakan diri sendiri.
C. Faktor
yang Mempengaruhi Hedonisme
Gaya hidup hedonisme
tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari
luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonism, antara lain :
1.
Orang tua dan kaum kerabat
Orang tua dan kerabat
adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Orang tua lalai untuk
mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Orang tua
tidak banyak mencampurtangankan anak tentang hal spiritual. Sebagian orang tua
jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah
lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat
remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa.
2.
Faktor Bacaan
Faktor bacaan memang
dapat mencuci otak mahasiswa untuk menjadi orang yang memegang prinsip
hedonisme. Adalah kebiasaan mahasiswa kalau pulang kampus pergi dulu ke tempat
keramaian, pasar, paling kurang mampir di kios penjualan majalah dan tabloid.
Mereka senang dengan bacaan mengenai trend atau gaya hidup terbaru dan
entertainment sehingga timbul keinginan untuk mengikuti atau menirunya.
3.
Pengaruh tontonan
Pengaruh tontonan,
tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga
mengundang mahasiswa untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan
kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema
berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di luar nikah dan
bermesraan di muka publik sudah nggak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah !
seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak
mendidik, kecuali hanya banyak menghibur. Rancangan majalah popular dan tema
televisi komersil di negara kita memang sedang menggiring mahasiswa menjadi
generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk menjadi generasi produktif.
Tema iklannya adalah “manjakanlah kulitmu”. Andaikata semua mahasiswa dan
mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit. Pastilah sawah dan ladang,
serta lahan-lahan subur makin banyak yang tidak terurus. Karena mereka semua
takut jadi hitam. Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah kualitas
intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan dengan manusia (kualitas
fikiran dan keimanan).
D. Cara
Mengatasi Budaya Hedonisme
Untuk
mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan
sosialisasi, yaitu :
1.
Perlunya kearifan dalam memilih barang
agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
2.
Menanamkan pola hidup sederhana dalam
kehidupan sehari-hari.
3.
Dalam memilih barang mahasiswa perlu
membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga dapat membedakan barang apa
yang benar-benar diperlukan dan barang-barang yang diinginkan namun tidak
diperlukan.
4.
Penerapan pola hidup sederhana dalam
kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur keuangan mahasiswa agar
pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih kecil daripada
pengeluaran.
5.
Adanya kedewasaan dalam berpikir
sehingga mahasiswa dapat membentengi diri dari pola hidup konsumerisme.
Memilih gaya hidup
hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan.
Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur
menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan
puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi
kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi,
tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh-jauh karakter selfish
(mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot,
kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hedonisme adalah
pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari
kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan
yang menyakitkan.
Ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan hidup dan kebaikan manusia yang tertinggi.
Dengan kesenangan, para hedonis sejati berpegang pada pengakuan kenikmatan-
kenikmatan yang tidak sempurna di dunia ini.
Hedonisme adalah
derivasi (turunan) dari liberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan
adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah
meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial.
Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan berperilaku.
Jika perilaku hedonisme
dibiarkan saja, ini akan menjadi racun bagi dunia pendidikan, terutama
pendidikan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya
menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan sivitas
aka-demika. Budaya negatif ini telah mengikis sense of crisis generasi
muda terhadap berbagai permasalahan bangsa. Jangankan peduli negara, kebijakan
di tingkat kampus dan rektorat pun jarang direspon.
Kenyataan ini sungguh
ironis mengingat mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan di pundak
mahasiswalah harapan semua orang bertumpu. Mahasiswa yang terpengaruh budaya
konsumtif dan sulit melepaskan diri dari pengaruh teman-temannya yang sama-sama
berperilaku konsumerisme perlahan-lahan akan kehilangan daya pikir, logika,
nalar, dan analisisnya. Akibatnya adalah kita terancam kehilangan generasi
penerus yang pandai, idealis, kritis, dan dapat memberi solusi atas
permasalahan yang timbul. Dalam lingkup yang lebih luas negara kita terancam
kehilangan pemimpin yang dapat diandalkan untuk memimpin bangsa yang pada
akhirnya dapat mengakibatkan negara kita akan mudah dikuasai oleh negara lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Arif Rahman. (12 November 2011). Perilaku Hedonisme. Diambil pada tanggal
30 Desember 2012, dari