Sabtu, 12 Januari 2013

HEDONISM DALAM DUNIA PENDIDIKAN


HEDONISM
DALAM DUNIA PENDIDIKAN
" Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-tugas Perkuliahan Filsafat Ilmu dari Dr Marsigit M.A., Th 2012/2013"



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Tanpa disadari Hedonisme telah melekat dalam hidup kita. Hal itu berupa seringnya kita terjebak dalam pola hidup Hedonis. Pola hidup seperti ini mudah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimana orientasi hidup selalu diarahkan pada kenikmatan, kesenangan atau menghindari perasaan-perasaan tidak enak.
Merupakan suatu hal yang wajar apabila manusia hidup untuk mencari kesenangan, karena sifat dasar manusia adalah ingin selalu bermain ( homo ludens) dan bermain adalah hal hakiki yang senantiasa dilakukan untuk memperoleh kesenangan. Namun, bukan berarti kita bisa dengan bebas mendapatkan kesenangan, hingga menghalalkan berbagai cara demi memperoleh kesenangan. Sikap menghalalkan segala cara untuk memperoleh kesenangan telah banyak menghinggapi pola hidup kaum muda saat ini. Contohnya, kaum muda yang menyukai seks bebas atas dasar senang-senang saja. Pengaruh budaya liberal menyebabkan hilangnya norma-norma kesusilaan manusia. Hal ini secara tidak sadar sudah mengakar dalam jiwa-jiwa pemuja hedonisme. Namun ironisnya, mereka para pemuja kesenangan dunia semata, tidak menyadari bahwa hal yang dilakukannya adalah perilaku hedon. Contoh yang kita hadapi saat ini misalnya, segala media informasi berusaha menawarkan diri kita hal-hal mengenai gaya hidup (life style). Gaya hidup terus disajikan melalui media televisi. Kaum muda berlomba-lomba  dirinya untuk menjadi apa yang diinginkannya. Berbagai upaya dilakukan agar apa yang diinginkannya dapat tercapai, salah satu caranya dengan mencari popularitas. Popularitas dapat di peroleh dari berbagai aspek, baik positif maupun negatif. Tetapi kaum muda lebih banyak mencari popularitas melalui cara-cara instan yang cenderung ke hal-hal negatif, sehingga pada akhirnya kaum muda terjebak dalam gaya hidup hedonis.
Kaum muda ingin mencari popularitas hanya dari tampilan fisik semata. Mereka berlomba-lomba melakukan segala cara agar penampilan fisik mereka dapat meningkatkan popularitas mereka. Kaum muda tega menghabiskan tabungan orang tua mereka demi menunjang popularitas. Contohnya, mereka selalu membeli handphone, pakaian, kendaraan dan berbagai aksesoris keluaran terbaru agar terlihat selalu mengikuti perkembangan zaman, demi menunjang popularitas mereka di kalangan sebaya-nya. Hal ini akhirnya menghilangkan keinginan kaum muda untuk hidup sederhana. Mereka secara tidak langsung di paksa untuk terus mengikuti perkembangan zaman dan akhirnya meninggalkan paham kesederhanaan tersebut.
Kaum muda yang pada awalnya ingin menerapkan keserhanaan dalam hidupnya, menjadi terpengaruh dengan adanya perilaku-perilaku hedonis tersebut, sehingga akhirnya keinginan mereka untuk hidup sederhana menjadi tergantikan dengan paham untuk berfoya-foya dan menghamburkan uang. Inilah suatu realitas hedonisme yang akhirnya merusak keinginan kaum muda untuk hidup sederhana di masyarakat. Hedonisme, sebuah konsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidup.
Seiring dengan perkembangan jaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat pun seyogyanya juga  tidak terlepas dari nilai-nilai sebagai pengontrol/pengendali, agar tidak terjerembab ke dalam keangkaramurkaan dan nafsu serakah yang pada akhirnya akan menghancurkan dunia dan peradaban manusia itu sendiri. Iptek yang disenyawakan dengan nilai-nilai atau etika ilmiah niscaya akan membuahkan produk yang bermanfaat tanpa harus bermasalah dengan tatanan peradaban umat manusia. Pembahasan yang terkait dengan konsep nilai, sebenarnya merupakan kajian yang sangat erat secara substansial dengan persoalan etika. Kajian dalam persoalan ini biasanya mempertanyakan "apakah baik atau buruk", atau "bagaimana mestinya berbuat baik sehingga tujuan dapat dicapai dan bernilai". Menyikapi hal tersebut, dalam pembahasan makalah ini, akan dipaparkan tentang apa pengertian dan kajian etika ditinjau dari sudut pandang ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam aliran filsafat hedhonisme.


B.     Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh hedonism terhadap dunia pendidikan.

                                                                             BAB II
PEMBAHASAN

A.     Hedonisme Menurut Paham Para Filsuf
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani ἡδονισμός hēdonismos dari akar kata ἡδονή hēdonē, artinya "kesenangan". Paham ini berusaha menjelaskan adalah baik apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri.
Ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan hidup dan kebaikan manusia yang tertinggi. Dengan kesenangan, para hedonis sejati berpegang pada pengakuan kenikmatan- kenikmatan yang tidak sempurna di dunia ini.
Hedonisme pertama kali diformulasikan oleh filsuf Yunani Aristippus (c. 435-360 B.C.). Salah paham terhadap ajaran Socrates (470-399 B.C.), yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan akhir kehidupan, Aristippus menyamakan kebahagiaan dengan kesenangan. Ia berpegang bahwa kesenangan intelektual adalah lebih tinggi daripada kesenangan indera, tetapi yang terpenting adalah kesenangan yang dapat diperoleh di sini dan sekarang. Menurut Aristippus suatu perbuatan adalah baik, dan karena itu merupakan kebajikan, sepanjang itu memberikan pemuasan pada saat ini, padahal menurut sifat manusia tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah dicapai selalu akan terus dan terus menuruti hawa nafsu.
Prinsip Hedonisme disempurnakan oleh Epicurus (c. 341-270 B.C.), yang menggabungkannya dengan teori fisik dari Demokritus (c. 460-370 BC)…. Bagi Epicurus, tujuan hidup bukanlah kesenangan intensif tetapi kedamaian pikiran yang tetap, suatu tingkatan ketenangan yang ceria. Di atas semua itu seseorang harus menghindari ketakutan terhadap Tuhan dan ketakutan terhadap kematian. Orang bijak tersebut menetapkan bahwa sebelum kematiannya ia telah mempunyai sebanyak mungkin jumlah kesenangan dan sesedikit mungkin kesakitan/ penderitaan. Moderasi dianjurkan namun bukan atas dasar pertimbangan moral namun atas kesanggupan seseorang untuk menikmati kesenangan di masa mendatang dalam hidupnya. Keinginan/ hasrat harus dibatasi kepada batas- batas yang didalamnya hal tersebut dapat dipuaskan. Apapun yang meningkatkan kesenangan ataupun kedamaian pikiran secara umum adalah baik, dan apapun yang menguranginya adalah buruk. Hedonisme modern adalah filosofi moral yang dipilih oleh mereka yang mengingkari atau meragukan keberadaan hidup yang akan datang. (Diterjemahkan dari Fr. John Hardon’s Modern Catholic Dictionary).
Adapun hedonisme menurut Burhanuddin (1997:81) adalah sesuatu itu dianggap baik, sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya. Disini jelas bahwa sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan dan tidak menyenangkan, dengan sendirinya dinilai tidak baik. Orang-orang yang mengatakan ini, dengan sendirinya, menganggap atau menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidupnya. Jadi ketika didalam kehidupan kesusahan itu datang maka sebenar benarnya itu bukanlah tujuan dari kehidupan berdasarkan konsep hedonism.
Menurut Aristoteles dalam Russell (2004:243) kenikmatan berbeda dengan kebahagiaan, sebab tak mungkin ada kebahagiaan tanpa kenikmatan. Yang mengatakan tiga pandangan tentang kenikmatan: (1) bahwa semua kenikmatan tidak baik; (2) bahwa beberapa kenikmatan baik, namun sebagian besar buruk; (3) bahwa kenikmatan baik, namun bukan yang terbaik. Aristoteles menolak pendapat yang pertama dengan alasan bahwa penderitaan sudah pasti buruk, sehingga kenikmatan tentunya baik. Dengan tepat ia katakan bahwa tak masuk akal jika dikatakan bahwa manusia bisa bahagia dalam penderitaan: nasib baik yang sifatnya lahiriyah, sampai taraf tertentu, perlu bagi terwujudnya kebahagiaan. Ia pun menyangkal pandangan bahwa semua kenikmatan bersifat jasmaniah; segala sesuatu mengandung unsur rohani, dan kesenangan mengandung sekian kemungkinan untuk mencapai kenikmatan yang senantiasa kenikmatan yang tinggal dan sederhana. Jadi bisa dikatakan kenikmatan buruk itu bukanlah kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang baik, mungkin saja kenikmatan berbeda-beda jenisnya dan kenikmatan baik atau buruk tergantung pada apakah kenikmatan itu berkaitan dengan aktivitas yang baik atau buruk.
Menurut Epihurus dalam Russell (2004: 372) untuk menjaga ketentraman batin, ia menganggap kenikmatan sebagai yang baik, dan tetap memegang teguh, dengan konsistensi yang luar biasa, terhadap segala konsekuensi dari pandangan ini. Kenikmatan adalah awal dan akhir hidup yang penuh berkah. Epihurus tidak sependapat dengan para hedonis pendahulunya dalam membedakan antara kenikmatan aktif dan pasif, atau kenikmatan dinamis atau statis. Kenikmatan dinamis terdapat dalam tercapinya tujuan yang diinginkan, keingginan sebelumnya itu disertai pendidikan. Kenikmatan statis terdapat dalam keadaan ekuilibrium, yang tercipta dari adanya semacam keadaan yang diinginkan jika keadaan itu tidak terjadi. Saya kira kita bisa mengatakan perumusan rasa lapar, ketika upaya untuk memuaskan itu masih berlangsung merupakan kenikmatan dinamis, namun keadaan senang yang lantas timbul ketika rasa lapar itu telah sepenuhnya terpuaskan adalah kenikmatan status. Dalam kedua hal ini Epihurus lebih bijaksana jika mengejar jenis kedua, sebab lebih murni, dan tidak tergantung pada adanya penderitaan. sebagai perangsang munculnya keinginan. itu artinya bahwa kenikmatan sosial yang paling aman adalah persahabatan, karena beranggapan bahwa semua manusia senantiasa hanya mengejar kenikmatannya sendiri, kadang dengan cara yan bijaksana, kadang secara tak bijaksana.
Menurut Cicerno dalam Russell (2004:335) ia berpendapat bahwa persahabatan tak dapat dipisahkan dari kenikmatan, dan oleh sebab itu harus dikembangkan, kerena tanpa hal tersebut kita tidak dapat hidup dalam keamanan dan terjauhkan dari kecemasan, tak pula bisa merasakan kenikmatan.
Honis O. Kallsoff dalam Soerjono Soemardjo (1996 : 359) manusia dalam kenyataannya mencari kenikmatan (hedonisme psikologis) dengan prinsip yang mengatakan bahwa mausia seharusnya mencari kenikmatan (hedonisme etis). Disini jelas bahwa hedonisme ialah perbuatan yang diantara segenap perbuatan yang dapat dilakukan oleh seseorang akan membawa orang tersebut merasakan kebahagiaan yang sebesar-besarnya.
Hedonisme dihaluskan oleh Epicurus dan dihubungkan teori fisika dari Demokritos. Epicurus, tujuan hidup bukan kesenangan yang kuat, melainkan suatu kedamaian. Kita harus menghindari rasa takut terhadap dewa dan maut. Kesenangan intelektual saja tidak cukup, tanpa merasakan kesenangan inderani. Suatu perumusan yang kurang tepat oleh Epicurus untuk menghindari rasa takut terhadap dewa dan maut, yakni melalui cara senang-senang atau mengejar materi dalam hidup. Epicurus ini sama halnya kayak manusia jaman sekarang atau orang-orang yang beragama yang selalu takut mati dan percaya Tuhan tapi jarang bahkan tidak pernah menjalankan perintah-Nya.
Hedonism menurut kamus oxford memiliki makna The highest good and proper aim of human life. Tujuan hidup manusia yang paling baik dan menyeluruh. John Winter dalam bukunya yang berjudul Agar Langkah Hidup Anda Bahagia, mengatakan bahwa gaya hidup hedonisme diciptakan oleh sebuah zaman di mana zaman ini telah mendahulukan keinginan yang bersumber dari hawa nafsu, bukan dari pikiran rasional yang nyata.
Tetapi tokoh yang paling berpengaruh dalam perkembangan paham Hedonisme diantaranya :
1.      Aristippus
Aristippus dari Kyrene adalah seorang filsuf Yunani yang mempelajari ajaran-ajaran Protagoras. Ini dilakukannya selama berada di kota asalnya, yaitu Kyrene, Afrika Utara. Aristippus kemudian mencari Sokrates dan menjalin hubungan baik dengannya. Setelah Sokrates wafat, Aristippos tampil sebagai "Sofis" dan menjadi guru profesional di Atena. Lalu di Kyrene ia mendirikan sekolah yang dinamakan ''Cyrenaic School'' yang merupakan salah satu sekolah Sokratik yang tidak dominan. Sekolah ini mengajarkan perasaan-perasaan sebagai kebenaran yang paling tepat dalam hidup. Kesenangan adalah baik --termasuk juga kepuasan badani--. Kehidupan orang bijak selalu mencari jaminan kesenangan maksimal.
Aristippus menyetujui pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah mencari "yang baik". Akan tetapi, ia menyamakan "yang baik" ini dengan kesenangan "hedone". Menurutnya, akal (rasio) menusia harus memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan kesusahan. Hidup yang baik berkaitan dengan kerangka rasional tentang kenikmatan.
Kesenangan menurut Aristoppus bersifat badani (gerak dalam badan). Ia membagi gerakan itu menjadi tiga kemungkinan yaitu yang pertama gerak kasar yang menyebabkan ketidaksenangan seperti rasa sakit, yang kedua gerak halus yang membuat kesenangan, yang ketiga tiada gerak yaitu sebuah keadaan netral seperti kondisi saat tidur.
Aristippus melihat kesenangan sebagai hal aktual, artinya kesenangan terjadi kini dan di sini. Kesenangan bukan sebuah masa lalu atau masa depan. Menurutnya, masa lalu hanya ingatan akan kesenangan (hal yang sudah pergi) dan masa depan adalah hal yang belum jelas.
Meskipun kesenangan dijunjung tinggi oleh Aristoppus, ada batasan kesenangan itu sendiri. Batasan itu berupa pengendalian diri. Meskipun demikian, pengendalian diri ini bukan berarti meninggalkan kesenangan. Misalnya, orang yang sungguh-sungguh mau mencapai nikmat sebanyak mungkin dari kegiatan makan dan minum bukan dengan cara makan sebanyak-banyaknya atau rakus, tetapi harus dikendalikan/dikontrol agar mencapai kenikmatan yang sebenarnya.
2.      Epikuro.
Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan. Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan. Namun demikian, bukanlah kenikmatan yang tanpa aturan yang dijunjung Kaum Epikurean, melainkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam. Kaum Epikurean membedakan keinginan alami yang perlu (seperti makan) dan keinginan alami yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), serta keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan/harta yang berlebihan). Keinginan pertama harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menyebabkan kesenangan yang paling besar. Oleh sebab itu kehidupan sederhana disarankan oleh Epikuros. Tujuannya untuk mencapai ''Ataraxia'', yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari perasaan risau, dan keadaan seimbang.
Epikuros sangat menegaskan kebijaksanaan (phoronesis). Menurutnya, orang yang bijaksana adalah seorang seniman yang dapat mempertimbangkan pilihan nikmat atau rasa sakit. Orang bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang membatasi kebutuhan agar dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan. Ia menghindari tindakan yang berlebihan. Oleh karena itu, ada sebuah perhitungan yang dilakukan oleh Kaum Epikurean dalam mempertimbangkan segi-segi positif dan negatif untuk mencapai kenikmatan jangka panjang dan mendekatkan diri kepada ataraxia.
Kebahagiaan yang dituju oleh Kaum Epikurean adalah kebahagiaan pribadi (privatistik). Epikuros menasihatkan orang agar tidak mendekatkan diri kepada kehidupan umum (individualisme). Ini bukanlah egoisme. Menurut Epikuros, kebahagiaan terbesar bagi manusia adalah persahabatan. Berkumpul dan berbincang-bincang dengan para kawan dan membina persahabatan jauh lebih menguntungkan dan membantu mencapai ketenangan jiwa.

B.     Pengaruh Hedonisme Terhadap Pendidikan
Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Hedonisme adalah derivasi (turunan) dari liberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial. Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan berperilaku.
Di era reformasi, masyarakat berharap munculnya pemimpin dari kaum muda, baik di level kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat. Beberapa pemimpin muda memang telah lahir di daerah, tetapi belum untuk level nasional. Regenarasi kepemimpinan nasional berjalan lambat. Kaum muda yang ditunggu-tunggu belum menunjukkan tanda-tanda positif menjadi calon pemimpin bangsa.
Kondisi ini tergambar jelas di kampus-kampus. Masih pantaskah mahasiswa diberi label agen perubahan atau intelektual muda? Alih-alih menjalankan peran maksimal sebagai agen perubahan, yang terjadi justru berkembangnya budaya hedonisme di kampus-kampus. Mahasiswa sekarang cenderung mendewakan kesenangan dan kenikmatan dalam menjalani hidup. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar terlupakan oleh kilau kenikmatan sesaat. Sisi kehidupan mahasiswa saat ini telah dihadapkan pada berbagai godaan yang menarik dan menggiurkan sehingga bisa menyimpang dari idealisme hakiki manusia. Gaya hidup mahasiswa saat ini adalah gaya hidup kelas menengah ke atas yang dicirikan dengan kemampuan mengonsumsi produk dan gaya hidup yang serba modern. Mahasiswa sering kali digambarkan sibuk mengejar urusan cinta dengan gaya hidup yang menonjolkan tampilan fisik. Fenomena hura-hura oriented kerap ditemui di kampus. Semakin jarang terdengar percakapan akademis di lingkungan mahasiswa. Percakapan mereka lebih didominasi masalah fashion, sinetron dan film terbaru, serta aneka bentuk hedonisme lainnya.
Jika perilaku hedonisme dibiarkan saja, ini akan menjadi racun bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan sivitas aka-demika. Budaya negatif ini telah mengikis sense of crisis generasi muda terhadap berbagai permasalahan bangsa. Jangankan peduli negara, kebijakan di tingkat kampus dan rektorat pun jarang direspon.
Apatis, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sikap para mahasiswa masa kini. Tak percaya? Perhatikanlah lingkungan kampus: sebuah padepokan yang dihuni orang-orang muda berpendidikan. Sebagian besar dari mereka, entah mahasiswa atau mahasiswi, menghabiskan waktu dan uangnya untuk berburu kesenangan di tempat-tempat hiburan. Lihat pula kematian kelompok-kelompok diskusi. Mahasiswa lebih suka memberikan apresiasi pada kegiatan hiburan ketimbang aksi seminar dan penelitian. Jika ada pertunjukan musik di kampus, misalnya di auditorium, kawasan itu sesak oleh lautan mahasiswa. Tetapi menjadi sepi saat berlangsung kegiatan akademik seperti seminar dan diskusi publik lainnya. Setiap malam, kawasan kampus ramai bukan karena kegiatan akademik, namun oleh gerombolan mahasiswa yang begadang hingga dinihari untuk kegiatan yang tidak jelas.
Belum lagi perilaku dugemania dan seks bebas yang sekarang kian menjadi-jadi dan dianggap sebagai ”kewajaran” bagi mahasiswa. Fenomena ini menunjukkan rapuhnya mental generasi muda. Sangat disayangkan mengapa budaya itu begitu mudahnya merasuk ke mental generasi muda saat ini.
Kenyataan ini sungguh ironis mengingat mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan di pundak mahasiswalah harapan semua orang bertumpu. Mahasiswa yang terpengaruh budaya konsumtif dan sulit melepaskan diri dari pengaruh teman-temannya yang sama-sama berperilaku konsumerisme perlahan-lahan akan kehilangan daya pikir, logika, nalar, dan analisisnya. Akibatnya adalah kita terancam kehilangan generasi penerus yang pandai, idealis, kritis, dan dapat memberi solusi atas permasalahan yang timbul. Dalam lingkup yang lebih luas negara kita terancam kehilangan pemimpin yang dapat diandalkan untuk memimpin bangsa yang pada akhirnya dapat mengakibatkan negara kita akan mudah dikuasai oleh negara lain.
Tujuan pendidikan Negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945, alinea 4). Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang hedonisme, tetapi bangsa yang punya spiritual, punya emosional quotient- peduli pada sesama dan tidak selfish atau mengutamakan diri sendiri.
C.     Faktor yang Mempengaruhi Hedonisme
Gaya hidup hedonisme tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonism, antara lain :
1.      Orang tua dan kaum kerabat
Orang tua dan kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Orang tua lalai untuk mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Orang tua tidak banyak mencampurtangankan anak tentang hal spiritual. Sebagian orang tua jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa.
2.      Faktor Bacaan
Faktor bacaan memang dapat mencuci otak mahasiswa untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme. Adalah kebiasaan mahasiswa kalau pulang kampus pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di kios penjualan majalah dan tabloid. Mereka senang dengan bacaan mengenai trend atau gaya hidup terbaru dan entertainment sehingga timbul keinginan untuk mengikuti atau menirunya.
3.      Pengaruh tontonan
Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang mahasiswa untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah nggak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah ! seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali hanya banyak menghibur. Rancangan majalah popular dan tema televisi komersil di negara kita memang sedang menggiring mahasiswa menjadi generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk menjadi generasi produktif. Tema iklannya adalah “manjakanlah kulitmu”. Andaikata semua mahasiswa dan mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit. Pastilah sawah dan ladang, serta lahan-lahan subur makin banyak yang tidak terurus. Karena mereka semua takut jadi hitam. Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah kualitas intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan dengan manusia (kualitas fikiran dan keimanan).
D.    Cara Mengatasi Budaya Hedonisme
Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu :
1.      Perlunya kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
2.      Menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Dalam memilih barang mahasiswa perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan barang-barang yang diinginkan namun tidak diperlukan.
4.      Penerapan pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur keuangan mahasiswa agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih kecil daripada pengeluaran.
5.      Adanya kedewasaan dalam berpikir sehingga mahasiswa dapat membentengi diri dari pola hidup konsumerisme.
Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki.


  

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
Ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan hidup dan kebaikan manusia yang tertinggi. Dengan kesenangan, para hedonis sejati berpegang pada pengakuan kenikmatan- kenikmatan yang tidak sempurna di dunia ini.
Hedonisme adalah derivasi (turunan) dari liberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial. Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan berperilaku.
Jika perilaku hedonisme dibiarkan saja, ini akan menjadi racun bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan sivitas aka-demika. Budaya negatif ini telah mengikis sense of crisis generasi muda terhadap berbagai permasalahan bangsa. Jangankan peduli negara, kebijakan di tingkat kampus dan rektorat pun jarang direspon.
Kenyataan ini sungguh ironis mengingat mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan di pundak mahasiswalah harapan semua orang bertumpu. Mahasiswa yang terpengaruh budaya konsumtif dan sulit melepaskan diri dari pengaruh teman-temannya yang sama-sama berperilaku konsumerisme perlahan-lahan akan kehilangan daya pikir, logika, nalar, dan analisisnya. Akibatnya adalah kita terancam kehilangan generasi penerus yang pandai, idealis, kritis, dan dapat memberi solusi atas permasalahan yang timbul. Dalam lingkup yang lebih luas negara kita terancam kehilangan pemimpin yang dapat diandalkan untuk memimpin bangsa yang pada akhirnya dapat mengakibatkan negara kita akan mudah dikuasai oleh negara lain.




DAFTAR PUSTAKA

Arif Rahman. (12 November 2011). Perilaku Hedonisme. Diambil pada tanggal 30 Desember 2012, dari
Dewi Wulandari. (Juni 2012). Pengertian Hedonisme. Diambil pada tanggal  21 Desember 2012, dari http://lovesgreen.blogspot.com/2012/06/pengertian-hedonisme.html
Febri Yulika. (2 Juni 2012). Budaya Hedonisme Dalam Tinjauan Filsafat. Diambil pada tanggal 21 Desember 2012, dari http://febrilecture.wordpress.com/2012/06/02/budaya-hedonis-dalam-tinjauan-filsafat-etika/
Hedonisme. Diambil pada tanggal 24 Desember 2012, dari http://www.iep.utm.edu/hedonism/
Ibrahim Ajana. (15 Juni 2011). Kajian Etika Dan Filsafat Hedonisme Ditinjau Dari Sudut Pandang Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi. Diambil pada tanggal 30 Desember 2012, dari http://arjana-stahn.blogspot.com/2010/01/kajian-etika-dan-filsafat-hedonisme_09.html
Pengaruh Hedonisme Terhadap Kaum Intelektual. (4 Agustus 2012). Diambil pada tanggal 30 Desember 2012, dari http://lpminstitut.com/dialogis/410-pengaruh-hedonisme-terhadap-kaum-intelektual
Wattimena, R.A.A. (9 Maret 2011). Hedonisme, Sikap Cuek, dan Kesadaran normatif di dalam hidup bermasyarakat. Diambil pada tanggal 21 Desember 2012, dari http://rumahfilsafat.com/2011/03/09/inspirasi-dari-gresik-hedonisme-sikap-cuek-dan-kesadaran-normatif-di-dalam-hidup-bermasyarakat/#more-958

Zubair, A.C (2 Januari 2010). Tinjauan Kultural Terhadap Hedonisme di Kalangan Generasi Muda. Diambil pada tanggal 24 Desember 2012, dari http://filsafat.ugm.ac.id/downloads/artikel/hedonisme.pdf





Tidak ada komentar:

Posting Komentar