Di dalam
kehidupan praktis sehari-hari, manusia bergerak di dalam dunia yang telah
diselubungi dengan penafsiran-penafsiran dan kategori-kategori ilmu pengetahuan
dan filsafat. Penafsiran-penafsiran itu seringkali diwarnai oleh
kepentingan-kepentingan, situasi-situasi kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan,
sehingga ia telah melupakan dunia apa adanya, dunia kehidupan yang murni,
tempat berpijaknya segala bentuk penafsiran.
Dominasi
paradigma positivisme selama bertahun-tahun terhadap dunia keilmuwan, tidak
hanya dalam ilmu-ilmu alam tetapi juga pada ilmu-ilmu sosial bahkan ilmu
humanities, telah mengakibatkan krisis ilmu pengetahuan. Persoalannya bukan
penerapan pola pikir positivistis terhadap ilmu-ilmu alam, karena hal itu
memang sesuai, melainkan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu masyarakat
dan manusia sebagai makhluk historis.
Kata Positivisme
merupakan turunan dari kata positive. John M. Echols mengartikan positive
dengan beberapa kata yaitu positif (lawan dari negatif), tegas, pasti, meyakinkan.
Dalam filsafat, positivisme berarti suatu aliran filsafat yang berpangkal pada
sesuatu yang pasti, faktual, nyata, dari apa yang diketahui dan berdasarkan
data empiris. Aliran ini berpandangan bahwa manusia tidak pernah mengetahui
lebih dari fakta-fakta, atau apa yang nampak, manusia tidak pernah mengetahui
sesuatu dibalik fakta-fakta.
Ajaran positivisme
timbul pada abad 19 dan termasuk jenis filsafat abad modern. Kelahirannya
hampir bersamaan dengan empirisme. Kesamaan diantara keduanya antara lain bahwa
keduanya mengutamakan pengalaman. Perbedaannya, positivisme hanya membatasi
diri pada pengalaman-pengalaman yang objektif, sedangkan empirisme menerima
juga pengalaman-pengalaman batiniah atau pengalaman yang subjektif. Salah satu
Tokoh terpenting dari aliran positivisme adalah August Comte (1798-1857). Auguste
Comte lahir di Montpellier, Perancis pada 19 Januari 1798. August Comte
adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kaum positivis percaya
bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian
empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan.
Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat
optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis. Bagi Comte untuk menciptakan
masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat
digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu:
1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan
terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah
kecermatan.
Metode positif juga mempunyai
sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode
historis.
Menurut Comte , perkembangan pemikiran
manusia berlangsung dalam 3 zaman, yaitu; zaman teologis, zaman metafisis dan
zaman ilmiah atau zaman positif.
1).
Pada zaman teologis , manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala
alam. Pada tahapan ini, dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif
yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental
untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek.
Animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu
beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda
pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap
aktivitasnya dikeseharian. Contoh yang lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat
membenturkan godamnyalah yang membuat guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi
kesuburan yang menetap ditiap sawah.
2) Zaman
metafisis atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena tahapan
ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada
tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan
jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik.
3) Zaman positif, adalah
tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya diterangkan
oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan
dibuktikan atas cara empiris, contohnya, adalah bilamana kita memperhatikan
kuburan manusia yang sudah mati pada malam hari selalu mengeluarkan asap
(kabut), dan ini karena adanya perpaduan antara hawa dingin malam hari dengan
nitrogen dari kandungan tanah dan serangga yang melakukan aktivitas kimiawi
menguraikan sulfur pada tulang belulang manusia, akhirnya menghasilkan panas
lalu mengeluarkan asap.
Menurut comte, individu
dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial, sehingga satuan masyarakat
asasi asalah bukan individu-individu, melainkan keluarga. Dalam keluargalah
individu diperkenalkan kepada masyarakat. Menurut Comte, ilmu pengetahuan
bersifat positif apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada
gejala-gejala yang nyata dan konkret, tanpa ada halangan dari
pertimbangan-pertimbangan lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar